Taqwa

Allah Ta’ala berfirman , “sesungguhnya yang paling mulia dari kamu sekalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa”. QS. Al-Hujarat 13
Abu Sa’id al-Khudri berkata, “Seorang laki-laki datang kepada RasuluLlah SAW seraya meminta nasihat, ‘Wahai Nabi Allah, wasuyatilah diriku ‘. Beliau menjawab, “Wajib atasmu bertaqwa kepada Allah karena sesungguhnya taqwa merupakan kumpulan semua kebaikan. Wajib atasmu untuk berjuang karena berjuang adalah ibadah/rahbaniyah orang islam. Dan wajib atasmu untuk selalu ingt kepada Allah karena mengingat Dia adalah cahaya bagimu”.
Seseorang telah bertanya kepada RasuluLlah SAW, “Wahai Nabi Allah, siapa keluarga Muhammad ?”. Beliau menjawab, “Orang yang bertaqwa kepada Allah Ta’ala, takwa merupakan kumpulan perbuatan baik, sedangkan esensinya selalu ta’at kepada Allah agar terhindar dari siksaanNya”. Ada suatu ungkapan, ‘Si fulan bertaqwa dengan perisainya. Oleh karena itu pondasi taqwa haris menghindari perbuatan syirik, maksiyat, dan perbuatan tercela. Selain itu juga menghindarkan diri dari perbuatan syubhat, perbuatan yang tidak berfaidah”.
Al Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq berkata, “setiap klasifikasi pembagian terdapat satu bab dalam pembahasan. Untuk menafsirkan firman Allah Ta’ala, “bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa”.(QS. Ali Imran. 102) hal itu untuk dita’ati bukan untuk di ingkari, supaya untuk di ingat bukan untuk dilupakan, dan supayandisyukuri bukan untuk dikufuri”.
Sahal bin Abdullah berpendapat, tak ada seseorangpun yang dapat menolong kecuali Alla, tak ada argumrntasi yang benar kecuali RasuluLlah, tak satupun dari modal persiapan kecuali taqwa dan tak satupun amal kebaikan kecuali sabar”.
Menurut Al-Kattani, dunia diciptakan agar manusia menerima cobaan dan akhirat diciptakan agar manusia bertaqwa. Al Jariri berkata, “Barang siapa yang membrikan keputusan antara manusia dan Allah Ta’ala tanpa dasar taqwa dan pendekatan diri kepada Allah, maka dia tidak akan sampai kepadaNya.”
Menurut Nashr Abadzi, yang dimaksud dengan taqwa adalah seoang hamba yang tidak takut kepada apapun kecuali hanya kepada Allah . sahal berkata, “Barang siapa yang menginginkan agar taqwanya benar, maka ia harus meninggalkan semua perbuatan dosa. Nashr Abadzi berkata, “Barang siapa yang selalu bertaqwa, maka dia tidak merasa keberatan meninggalkan dunia sebagaimana firman Allah Ta’ala, ‘dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik agi orang yang bertaqwa apakah mereka tidak memikirkannya”’.QS. Al-An’am 32
Sebagian ulama berkata, “Barang siapa yang mampu mewujudkan taqwa, maka hatinya akan dikmudahkan oleh Allah untuk berpaling dari kemewahan dunia”. Menurut Abu Bakar Muhammad Ar-Rudzabari yang dimaksud taqwa adalah meninggalkan sesuatu yang dapat menjauhkan diri dari Allah Ta’ala. Menurut Dzunun Al-Mishri yang dimaksud orang yang taqwa adalah orang ang tidak mengotori jiwa bathin dengan interaksi sosial. Dalam kondisi yang demikian maka orang tersebut akan mengadakan kontak dengan Allah dan dapat berkomunikasi denagnNya. Ibnu ‘Atha’ berkata, “taqwa terbagi menjadi dua yaitu taqwa lahir dan taqwa bathin. Taqwa lahir adalah menjauhkan diri dari hal-hal yang dilarang, sedangkan taqwa bathin adalah niat dan ikhlash”. Sya’ir dari Dzunun Al-Mishri:
Tak ada kehidupan yang sejati
Kecuali dengan kekuatan hati mereka
Yang selalu merindukan taqwa dan menyukai dzikir
Ketenangan telah merasuk ke dalam bathin yang yakin
Dan yang baik
Sebagaimana bayi yang masih menetek
Telah masuk ke dalam pangkuan
Seorang laki-laki yang bertaqwa dapat dijadikan standar apabila memenuhi tiga hal. Pertama tawakal yang baik dalam hal yang tidak mungkin diperoleh. Kedua, ridha yang baik dalam hal yang telah diperoleh. Ketiga, sabar yang baik dalam hal yang telah lewat. Sedang menurut Thalq bin Habib, yang dimaksud taqwa adalah perilaku ta;at kepada Allah di atas cahayanya.
Diriwayatkan dari Hafs, ia berkata,”Taqwa harus ditanamkan dalam perbuatan yang halal lagi murni, bukan pada yang lain. “ Abul Husain Al-Zunjani berkata, barang siapa yang memiliki modal taqwa, maka berbagai ungkapan sifat jelek akan tertolak”.
Al Washiti mengatakan, “Yang diamksud taqwa adalah orang yang selalu memelihara ketaqwaannya. Orang yang taqwa dapat diperumpamakan seperti Ibnu Sirin. Ketika ia membeli 40 takar minyak samin, seseorang mengeluarkan tikus dari timbangan tersebut. Inbu Sirin bertanya, ‘dari timbangan mana engkau keluarkan tikus tersebut ? pemuda itu menjawab ‘akutidak tahu’. Setelah itu Ibnu Sirin menuangkan semua minyak ke tanah”. Dalam cerita lain Abu Yazid pernah membeli minyak parfum di kota Hamdzan dan mendapatkan kelabihan. Ketika ia pulang ke kota Bustam, dia melihat dua semut di dalam parfum tersebut. Setelah itu ia kembali ke kota Hamdzan dan meletakkan dua semut itu ke tempat penjual.
Diceritakan bahwa Abu Hanifah tidak pernah duduk di bawah bayangan pohon orang yang mempunyai hutang kepadanya, berdasarkan hadits RasuluLlah SAW, “Kullu Qardhin jirra naf’an fahuwa riba” yang artinya tiap-tiap hutang yang mendapatkan keuntungan adalah riba.
Diceritakan Abu Yazid telah mencuci pakaiannya di tanah lapang. Dia bersama temannya seraya berkata kepada Abu Yazid, “Pakaian ini kita jemur di atas dinding pohon anggur “. Abu Yazid menjawab, “janganlah engkau meletakkan pasak di atas dinding orang lain”. Temannya bertanya, “apakah ahrus kita jemur di atas pohon rerumputan ?”. Dia menjawab, “Tidak karena rerumputan itu adalah makanan hewan, maka kita tidak boleh menutupinya”, Setelah itu Abu Yazid menghadapkan punggungnya ke arah matahari, sedangkan paakian yang sebelah kanan sudah kering, maka ia membalikkannya hingga pakaian sebelah kiri juga kering.
to be continued
Khalwat/Uzlah/Menyepi
Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA. Bahwa RasuluLlah SAWW bersabda, “sesungguhnya sebaik-baik penghidupan manusia adalah orang yang mampu memegang kerasnya (kendali kuda) di jalan Allah. Jika mendengar hal yang mengejutkan dan menakutkan, ia tetap berada si atas punggungnya dengan pilihan mati atau terbunuh, atau orang yang mendapatkan harta rampasan perang yang bertempat tinggal di atas gunung atau di dasar jurang yang senantiasa menerjakan salat, memberikan zakat, dan beribadah kepada Tuhan sampai kematian menjemputnya, yang tidak dimiliki orang lain kecuali tetap dalam kebaikan”.
Khalwat adalah merupakan sifat orang sufi. Sedangkan uzlah adalah merupakan bagian dari tanda bahwa seseorang telah bersambung dengan Allah Ta’ala. Seharusnya bagi murid pemula (yaitu orang yang ingin mendekatkan diri kepada Allah) agar uzlah (mengasingkan diri dari bentuk-bentuk eksistensial kemudian di akhir perjalanannya melakukan khalwah (mneyepi) sehingga ifat lemah lembut akan dapat tercapai. Hakikat khalwah adalah pemutusan hubungan dengan makhluk menuju penyambungan hubungan dengan Al-Haq yaitu Allah Subhanahu Wata’ala. Ahl demikian dikarenakan khalwah merupakan perjalanan ruhani dari nafsu menuju hati, dan hati menuju ruh dan daru ruh menuju alam rahasia /sirr dan dari alam rahasia menuju Dzat Maha pemberi segalanya.
Hamba yang melakukan uzlah haruslah diniatkan karena Allah Ta’ala dengan maksud dan niatan menjaga keselamatan orang lain dari perangai buruknya. Dan janganlah bermaksud menjaga keselamatan dirinya dari keburukan orang lain. Karena pernyataan yang pertama adalah wujud dari sikap rendah ahti /tawadhu’ sedangkan pernyataan yang kedua adalah menunjukkan sifat sombong yang ada pada dirinya.
Sebagian pendeta ditanya, “Apakah engkau seorang pendeta ?” maka dia menjawab, “Tidak saya hanyalah sebagai penjaga anjing. Jiwaku serupa dengan anjing yang dapat melukai orang lain, karena itu saya harus keluar dari mereka supaya mereka selamat”.
Pada suatu saat ada seorang bertemu dengan orang saleh yang sedang mengumpulkan pakaiannya. Lelaki itu bertanya “Mengapakah engkau kumpulkan pakaianmu. Apakah pakaianku itu najis ?” maka orang tua yang saleh etrsebut menjawab, “tidak, tetapi pakaiankulah yang najis dan aku kumpulkan agar tidak menajiskan pakaianmu”.
Sebagian dari tatacara uzlah adalah untuk memperoleh ilmu yang dibenarkan oleh akidah tauhid. Selain itu untuk memperoleh ilmu syari’at atas dasar kewajiban sehingga bentuk perintahnya menjadi pondasi yang kuat-untuk dilaksanakan. Esensi uzlah adalah menghindarkan diri ari perbuatan tercela. Sedangkan hakikatnya adalah menggantikan sifat yang tercela untuk di isi denagn sifat yang terpuji, bukan untuk menjauhkan diri dari tempat tinggalnya / tanah arinya. Ditanyakan, “Siapak orang yang ma’rifat itu ?” dijawab ,”mereka adalah orang yang selalu berada di tepi jauh, yakni dia selalu bersama orang lain sedangkan hatinya jauh dari mereka”.
Asyaikh Al-Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq berkata, “Berpakaianlah sebagaimana orang berpakaian, makanlah sebagaimana orang makan, dan menyendirilah dengan bersembunyi”. Beliau juga mengatakan, “Suatu hari seseorang datang kepadaku dan bertanya, ‘Saya datang kepadamu dari perjalanan yang sangat jauh ?’. lalu aku jawab cerita ini dengan bukan dengan arti jaarak perjalanan yang terputus dan perjalanan yang melelahkan. Renggagkan jiwamu dengan satu langkah, maka tujuanmu akan tercapai’”.
Diriwayatkan dari Abu Yazid Al Busthami, RA, beliau berkata, “Saya pernah bermimpi bertemu Tuhan, kemudian saya bertanya, ‘Bagaimana caranya agar aku isa bertemu denganNya ?” Dan Ia menjawab, “Pisahkan jiwamu dan bersegeralah datang”.
Abu Utsman Al-Maghribi mengatakan, “Barang siapa ingin meninggalkan masyarakat, selayaknya ia meninggalkan semua ingatan kecuali ingat kepada Tuhan, meninggalkan semua keinginan kecuali mencari ridha Tuhan, dan meninggalkan semua tuntutan hawa nafsu. Jika tidak demikian maka apa yang dikerjakan akan menimbulkan fitnah dan cobaan”. Menurut suatu pendapat, khalwat adalah pekerjaan yang paling dicintai untuk mendorong raa rindu.
Muhammad bin Hamid berkata, “Seseorang bertamu kepada Abu Bakar Al;-Waraq, ketika akan pulang ia meminta kepada Muhammad agar meberi wasiyat kepada dirinya. Abu Bakar Al-Waraq menjawab, “Engkau telah mendapatkan kebaikan di dunia dan di akhirat karena engkau selalu menyendiri dan meninggalkan pergaulan masyarakat. Kejelekan dari keduanya terletak pada pencampur adukan dan pembauran”.
Abu Muhammad Al-Jariri ditanya tentang uzlah, dia menjawab, “Uslah adalah masuk ke tempat yang sempit, menjaga rahasia agar tidak terjadi gesek menggesek dan meninggalan keinginan hawa nafsu sehingga hatimu terkait dengan kebenaran”. Ada yang berpendapat, urgensi uzlah adalah menghasilkan kemuliaan.
Menurut Sahal, khalwat tidak dpat dibenarkan kecuali dengan meninggalkan yang haram. Dan meninggalkan barang yang halal juga tidak dibenarkan kecuali dengan melaksanakan hak Allah Ta’ala. Dzunun AL-Mishri berkata, “Saya tidak pernah melihat sesuatu yang dapat menimbulkan sikap ikhlas kecuali kekasihmu adalah khalwat, makananmu adalah lapar, dan pembicaraanmu adalah lapar. Apabila engkau meninggal dunia, engkau selalu bersambung kepada Allah”. Dzunun al-Mishri juga ppernah berkata,”Orang tidak akan terhalang dari makhluk hanya karena khalwat sebagaimana orang tidak orang tidak akan terhalang dari mereka karena mendekatkan diri kepada mereka”.
Menurut Al-Junaid, “Susahnya uzlah lebih mudah dari pada siklus kehidupan bermasyarakat”. Menurut makhul As-Syami, “Jika kehidupan bermasyarakat memperoleh kebaikan, maka uzlahpun juga memberikan keselamatan”. Sedangkan menurut Yahya bin Muadz, “Menggabungkan keduanya merupakan cara yang terbaik bagi orang yang mencari kebenaran”.
Syaikh Abu Ali berkata dengan mengutip apa yang disampaikan Imam As-syibli, “Manusia akan bengkrut dan bangkrut “. Seseorang bertanya kepadanya, “Apa tanda-tanda orang yang bangkrut wahai Abu Bakar ?”. beliau menjawab, “Tamda orang yang bangkrut adalah orang yang menyakiti orang lain”.
Yahya bin Abu Katsir berpendapat, “Barang siapa yang bergaul dengan orang lain, maka ia akan didekati. Barang siapa yang mendekati orang lain maka ia akan dilihat”. Said bin Harits telah berkata, “Saya pernah mengunjungi Malik bin Mas’ud di kufah. Dia menyendiri di rumahnya. Setelah itu kutanyakan sesuatu kepadanya, ‘Apakah engkau tidak kesepian menyendiri di temapt ini ?’ Dia menjawab, “Saya tidak pernah melihat seseorang kesepian jika dia bersama – sama Allah”.
Al Junaid berkata, “Barang siapa yang hendak menyerahkan agamanya dab menentramkan tubuh dan hatinya, hendaknya ia menjauhkan diri dari orang lain. Masa sekarang adalah masa kesepian. Oleh karena itu, orang yang memiliki akal sehat, tentu akan menyendiri”. Al-Junaid telah mendengar Abu Bakar Ar-Razi berkata, “Abu Ya’qub As-Susi berkata bahwa seseorang tidak akan mampu menyendiri kecuali hanya orang-orang yang kuat. Oleh karena itu orang seperti kita bermasyarakat tentu lebih baik dan lebiih bermanfaat”. Abul Abbas Ad-Danaghani berkata, “Imam Syibli berwasiyat kepadaku, ‘ menyendirilah dan hapus namamu dan menghadaplah ke dinding sampai engkau mati”.
Ada seorang laki-laki datang kepada Syu’aib bin Harb, beliau bertanya , “Apa yang menyebabkan engkau datang kepadaku ?”. dia menjawab, “Agar saya dapat selalu bersamamu”. Kemudain Syu’aib berkata, “Wahai saudara, ibadah tidak akan bermanfaat jika berbaur dengan syirik. Barang siapa yang tidak mencintai Allah, maka ia tidak akan menjumpai sesuatu yang dicintainya”.
Sebagian ulama ditanya, “Apakah yang membuatmu heran / ujub ?”. Dia menjawab, “Keindahan yang dapat mendorong persahabatan. Oleh akrena itu aku selalu takut menyerahkan diriku kepada Allah Ta’ala akan menjadi rusak”. Ulama yang lain juga pernah ditanya, “Apakah di sana ada orang yang mencintaimu ?”. Dia menjawab, “Ya, dia selalau merentangkan kekuasaannya di dalam kiatbnya dan meletakkannya di atas batu”. Dalam konteks seperti ini ada sya’ir :
Kitab-kitabMu ada di sekelilingku
Oleh karena itu jangan kau pisahkan dari tempat tidurku
Di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan orang
Yang saya sendiri adalah yang menyembunyikannya
Seorang lelaki bertanya kepada Dzunun Al Mishri, “Kapan saya boleh uzlah ?”. Beliau menjawab, “Jka engkau telah mampu mengasingkan dirimu sendiri”.
Ibnu Mubatrak telah ditanya, “Apa obat hati ?” Dia menjawab, “Meminimalkan pergaulan dengan masyarakat”. Menurut suatu pendapat jika Allah hendak memindahkan seseorang dari kemaksiyatan yang hina menuju kemuliaan ta’at, Allah Ta’ala pasti mencintai dia dengan menyendiri, mencukupi dia dengan menerima, dan memperlihatkan dia segala cacat yang tertanam di dlm jiwanya. Apabila hal tersebut telah diberikan, maka kebaikan dunia danakhirat pasti akan diberikan kepadanya”.
Mujahadah.
Mujahadah.
Allah berfirman, “Walladziina jaahaduu fiinaa lanahdiyannahum subulanaa wa innaLlaaha lama’al Muhsiniin”. Yang artinya, “dan orang-orang yang berjuang di jalan Kami niscaya akan Kami tunjukkan jalan Kami, dan sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang baik”. (QS. Al-Ankabut 69)
Dari Abu Sa’id Al-Khudri diceritakan bahwa ia berkata, “RasuluLlah SAW pernah ditanya tentang seutamanya jihad, maka dijawab, ‘Kalimatu haqqin ‘inda sulthaani jaa’ir”. Yang artinya, ‘kalimat yang adil yang disampaikan kepada penguasa yang lalim’”.
Tanpa terasa kedua mata Abu sa’id mengeluarkan air mata.
Syaikh Abul Qasim Al-Qusyaairi berkata, “Saya pernah e,mndengar UstadzAbu ‘Ali Addaqaaq berkata,”Barang siapa menghiasi lahiriahnya dengan mujahadah, maka Allah akan memperbaiki bathiniahnya dengan musyahadah. Ketahuilah bahwa seseoang yang dalam awal perjalanannya tidak mengalami mujahadah maka dia tiak akan mendapatkan lilin yang meneangi jalannya”.
Abu Utsman Al-Maghribi berkata, “barang siapa mengira bahwa sesuatu hanya dapat dibukakan atau disingkapkan untuknya hanya melalui jalan ini atau hanya dengan keteguhan menjalani mujahadah, maka dia adalah orang yang salah”.
Syaikh Abul Qasim Al-Qusyairi pernah mendengar Ustadz Abu ‘Ali Addaqaaq semoga Allah merahmatinya berkata,”Barang siapa dalampermulaannya tidak pernah berdiri, maka pada akhirnya dia tidak akan pernah duduk”. Beliau juga pernah mengatakan bahwa gerak membawa barokah atau gerak adalah barokah itu sendiri. Gerak lahir menurut beliau mengharuskan timbulnya barokah rahasia.
“Wahai para pemuda”, pesan Assirri, “bersungguh-sungguhlah kalian sebelum batas akhir kemampuan yang membuat kalian lemah dan kurang sebagaimana kelemahan dan kekurangan fisik kalian”. Saat iti para pemuda tidak mampu mengawani Assirri dalam menjalankan ibadah.
Menurut Hasan Al-Qazzaz menerangkan bahwa masalah ini mujahadah,, dibangaun atas tiga hal, -hendaknya tidak makan kecuali benar-benar membutuhkan / lapar, -tidak tidur kecuali bnar-benar mengantuk, -dan tidak berbicara kecuali benar-benar terdesak (mengharuskan).
Syaikh Al-Qusyairi berkata, Saya pernah mendengar Ibrahim bin Adham berkata, “Seseorang idak akan mendapatkan derajat orang-orang salih hingga mampu mengatasi enam rintangan, 1. menutup pintu nikmat dan membuka pintu kesulitan. 2. menutup pintu kemuliaan dan membuka pintu kehinaan. 3. mentup pintu istirahat dan membuka pinti perjuangan. 4. menutup pintu tidur dan membuka pintu terjaga. 5. mentup pintu kekayaan dan membuka pintu kefakiran. 6. menutup pintu angan-angan dan membuka pintu persiapan menjelang kematian”.
“Barang siapa yang nafsunya memuliakan dirinya, maka agama dan reputasinya akan menghinakannya”. Demikian kata Abu Amir bin Najid.
Syaikh Al-Qusyairi RA berkata, “Sayapernah mendengar Abu ‘Ali Ar-Rudzabaar mengatakan, “Jika seorang sufi setelah lima hari –tidak mendapatkan makanan berkata, ‘saya lapar’, maka giringlah dia ke pasar dan suruhlah ia bekerja”. Ketahuilah bahwa dasar daripada mujahadah adalah menyapih hawa nafsu dari kebiasaannya, dan membawanya pada penentangan hawa nafsu di seluruh waktu”.
Nafsu mempunyai dua sifat yang mampu mencegah kebenaran. 1. ketekunannya menuruti syahwat. Danke 2. mencegah keta’atan. Jika nafsu ketika mengendarai keinginannya tidak dapat dikendalikan, maka wajib dikekang dengan kekang taqwa. Jika ia dapat berhenti dengan menepati perintah2 agama, maka dia wajib digiring pada penentangan hawa nafsu. Ketika dalam kondisi marah dia berontak, maka wajib diteliti, dikendalikan,dan diarahkan pada keadaannya yang tenang. Tak ada kondisi yang akibatnya lenih bagus daripada kemaranhan, yang kekuasaannya dipecahkan dngan akhlak yang baik, dan apinya dipadamkan dengan kelembutan perilaku. Jika nafsu menganggap halal “suatu ketololan” sehingga segala sesuatu menjadi sempit kecuali dengan penampakan perangai – perangai baik dan lebih mempercantiknya ketika orang lain melihat atau menelitinya /riya’ maka keadaan yang demikian ini harus dipecahkan dan dilepaskan dengan siksaan kehinaan. Yaitu dengan cara mengingatkan kerendahan derajad nafsu, kehinaan aslinya dan kekotoran perbuatannya. Mujahadah orang awam terdapat pada pemenuhan amalan wajib. Mujahadah orang khusus terdapat pada pembersihan ahwal / keadaan . oleh karena itu menahan lapar dan terjaga adalah sesuatu yang mudah lagi ringan. Sedangkan mengobati akhlak dan menjauhkannya dari kebusukannya adalah sestau yang sangat sulit.
Diantara penutup – penutup penyakit nafsu adalah kecondongannya pada kemampuan meraakan manisnya pujian. Jika seseorang menghirup seteguk pujian maak dia akan ‘memikul’ penduduk langit dan bumi pada bulu matanya. Adapun tanda-tandanya apabila ia terputus dari minuman/pujian tersebut maka keadaannya akan kembali kepada kemalasan dan kelemahan.
Seorang wanita yang sudah ditanya tentang keadaannya lalu dijawab, “Ketika saya masih muda, kutemukan pada diriku keaktifan dan giat beribadah. Dan sekarang tidak aku temukan lagi. Ketiak usia berubah, yang demikian itu hilang dariku”.
Syaikh Al Qusyary berkata, “saya pernah mendengar Dzunun Al-Mishri berkata, ‘Allah tidak akan memuliakan seseorang dengan suatu kemuliaan, yang lebih mulia daripada menunjukkannya pada kehinaan nafsunya. Dan tidak menghinakan seseorang yang lebih hina daripada Ia (SWT)menutupi kehinaan nafsunya dari pandangannya.
Ibrahim Al-Khawas menuturkan bahwa ia tidak takut akan sesuatu kecuali takut pada sikap yang menuruti hawa nafsu. Akan tetapi Muhammad bin Fudhail berpendapat bahwa kesenangan atau kesenggangan adalah merupakan pembebasan dari syahwat dan kesenangan nafsu.
Syaikh Abul qasim Al-Qusyairi pernah mendengar Syaikh Abu Ali Ar-Rudzabari mengatakan, “penyakit hati menyusup ke dalam akhlak melalui tiga jalan, 1. penyakit watak, 2. kebiiasaan yang dilaksanakan terus menerus, 3. kerusakan pergaulan.
-Adapun penyakit watak adalah memakan barang yang haram
-Sedang yang dimaksud melakukan kebiasaan adalah memandang dan merasakan nikmat dengan barang haram.
-dan kerusakan pergaulan adalah ketiak syahwat dalam nafsu bangkit , maka nafsu pasti mengikutinya.
An-Nashr Abadzi berkata, “nafsumu adalah penjaramu. Maka apabila kamu dapat keluar dari padanya, maka kamu pasti akan tinggal di tempat yang enak dan kekal”.
“Nafsu semuanya adalah gelap” kaa Abu Jafar. “dan lampunya adalah rahasia / sirr nya. Cahaya nafsu adalah taufiq. Barang siapa dalam rahasianya tidak di dampingi dengan taufiq Tuhannya maka dia dalam kegelapan di segala sisinya”.
-Yang dimaksud rahasianya adalah rahasia antara dirinya dengan Allah SWT.
-Rahasia adalah tempat keikhlasan seorang hamba
-dengan keikhlasan hamba akan mengetahui bahwa segala yang terjadi bukan karena kekuatan dirinya melainkan pertolongan Allah semata.
-kemudian dengan taufiqNya mampu menjaga diri dari keburukan nafsunya. Seseorang yang tidak mendapat taufiq maka ilmunya tidak akan bermanfaat pada dirinya dengan Tuhannya, karena ilmunya tidak akan menghindarkannya dari perbuatan yang buruk dan tidak pula menyebabkan keridhaan Tuhannya.
Abu Utsman berkata, “seseorang tidak akan tahu aibnya sendiri selama ia menganggap baik diri sendiri.”
Abu Hafs menyatakan ,”Tidak ada kerusakan yang lebih cepat daripada kerusakan orang yang tidak mengetahui aib dirinya, padahal maksiyat adalah kurir kekufuran”.
Abu Sulaiman berkata, “Saya tidak pernah menganggap baik ibadah saya, saya cukup hanya berbuat saja”.
Dzunun Al-Mishri, “kerusakan pada makhluk melalui enam perkara :
1. lemahnya niat beramal untuk akhirat
2. badan yang dijadikan jaminan untuk nafsunya
3. panjang angan-angan yang menguasai dirinya padahal ajal sangatlah dekat
4. lebih mengutamakan keridhaan makhluk daripada keridhaan Allah.
5. mengikuti hawa nafsu dan meninggalkan sunah Nabi SAW
6. menjadikan tergelincirnya lidah digunakan sebagai argumen untuk membela diridi sisi lain mengubur sebagian besar perilakunya –yang tidak baik.
Silahkan mengutip dengan mencantumkan
www.Manakib.wordpress.com
Manakib Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani RA.
-
Terkini
-
Tautan
-
Arsip
- Juni 2007 (1)
- Mei 2007 (3)
- April 2007 (3)
- Maret 2007 (3)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS