Risalah Al-Qusyairiyah

Terjemah ringkas kitab Risalah Al-Qusyairiyah

Diam

_____1.jpg

Diam

 

      Dari Abu Hurairah RA diceritakan bahwa RasuluLlah SAW bersabda, “Man kaana yu’minu biLlaahi wal yaumil aakhir falaa yu’dzii jaarahu, waman kaana yu’minu biLlaahi wal yaumil aakhir falyukrim dhaifahu, waman kaana yu’minu biLlaahi wal yaumi  aakhir fal yaqul khairan au liyashmuht”. HR. Abu Hurairah  

Yang artinya, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah menyakiti tetangganya. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia memuliakan tamunya. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknyan ia berkata baik atau diam”.

 

      Uqbah bin Amir menceritakan, “saya bertanya kepada RasuluLlah SAW “Apakah keselamatan itu?”, Beliau menjawab, “Ikhfadh alaika lisaanaka, wal yasa’ka baitaka, wabki ‘alaa khathii-atika”, yang artinya, “Jagalah lisan engkau, perluaslah rumahmu , dan menangislah akan dosa-dosamu.

 

      Diam adalah pondasi keselamatan dan merupakan sikap penyesalan terhadap berbagai celaan. Oleh karena itu kewajiban diam ditetapkan oleh syara’, perintah dan larangan. Sedangkan diam pada saat-saat tertentu adalah sifat pemimpin, sebagaimana ungkapan bahwa berbicara pada tempatnya termasuk perilaku yang baik.

      Saya (Imam Al-Qusyairi) telah mendengar ustadz Abu Ali Ad-Daqaaq berkata, “Barang siapa yang mendiamkan kebenaran, maka ia ibarat setan yang bisu”.  Sikap diam sambil memperhatikan, merupakan bagian dari perilaku orang-orang yang baik. Allah SWT berfirman, “Wa idzaa quri’al Qur’aanu fastami’uu lahuu wa anshituu la’allakum turhamuun” QS. Al-A’raaf 204. Yang artinya “apabila dibacakan Al-Qur’an maka maka hendaklah didengarkan dan diperhatikan agar kamu sekalian mendapat rahmat.”

 

      Allah SWT dalam ayat yang lain berfirman, yang mengabarkan kepada jin atas kehadian RasuluLlah SAW, “Falamma chadharuuhu fa anshituu” QS. Al Achqaaf 29. yang artinya, “Tatkala mereka hadir, mereka berkata kepada sesamanya, diamlah (perhatikanlah)”.

 

      Dalam ayat lain, Allah SWT juga berfirman, “Wakhasya’atil aswaathu liRrahmaani walaa tasma’u illa hamsaa “ QS. Thaha 108 yang artinya, “Sunyi senyaplah suara karena takut kepada Yang Maha Pengasih sehingga tiada engkau dengar kecuali suara halus”.

 

      Menyimpan mulut di depan orang yang diam merupakan sikap yang baik untuk menghindari kebohongan, umpatan dan kekejaman raja. Dalam pengertian ini seorang penyair menggambarkan,

 

Saya berpikir apa yang saya ucapkan

Jika telah berpisah

Saya tetapkan ungkapan sanggahan

Dengan sungguh-sungguh

Saya melupakan

Jika kita bertemu

Dan saya akan berkata

ketika mengadakan diplomasi

 

Dalam syair yang lain juga diungkapkan

 

Bagimu hendaknya menahan ucapan

Sehingga ketika engkau mampu menguatkan orang yang bertemu denganmu

Sehingga engkau dapat melupakannya

 

Demikian juga dalam syair yang lain

 

Saya telah mendengar ungkapan

Yang dapat menghiasi pemuda

Diam lebih baik

Bagi orang yang memperhatikan

Menyimpan ucapan

membawa implikasi kematian

dianggap melaksanakan cinta kasih

jika bersikap diam

 

      diam terbagi menjadi dua, yaitu diam secara lahir dan diam secara bathin. Orang yang bertawakal hatinya selalu diam dengan meninggalkan bernagai tuntutan ekonomi. Sedangkan orang yang berma’rifat hatinya akan selalu diam (tenang) dengan mempertemukan ketetapan hukum melaui sikap yang baik. Oleh karena itu perbuatan yang baik adalah yang dapat dipercaya, sedangkan ketetapan yang baik adalah hal yang dapat diterima.

 

      Terkadang yang menyebabkan diam adalah heran. Apabila pengetahuan tentang sifat yang mengejutkan telah muncul, maka ungkapan yang mengandung pelajaran akan menjadi tumpul, tak ada keterangan dan pemikiran. Oleh karena itu tempat-tempat pertemuan akan menjadi sirna , tidak ada ilmu dan perasaan. Allah SWT berfirman, “Yauma yajma’uLlaahurrusula fayaquulu maadzaa ujibtum, qaaluu laa ‘ilma lanaa”QS. Al Maaidah 109 yang artinya, “(Ingtalah) di hari  waktu Allah mengumpulkan para Rasul, kemudian Allah bertanya, “Apa jawaban kaummu terhadap seruanmu?” Para Rasul menjawab, “Tidak ada pengetahuan bagi maki tentang itu”.

 

      Jika mereka mengetahui apa yang terkandung di dalam pembicaraan merupakan hal-hal yang negative, dan merupakan bagian dari hawa nafsu, memperlihatkan sifat-sifat terpuji, suka membedakan berbagai kesulitan dengan sikap yang baik, dan mengetahui berbagai hal negative lainnya, maka mereka mempunyai sifat yang sama dengan orang-orang yang terlatih. Sifat ini merupakan bagian dari kekuatan  pondasi mereka untuk menghindarkan diri dan menyantuni orang lain.

 

      Dalam suatu cerita, Dawud At-Thaa’I ketika hendak memasuki rumahnya, dia berbalik (bermaksud) mengadiri tempat pengajian yang disampaikan oleh Abu Hanifah karena dia seorang muridnya. Ketika dirinya telah kuat dan mampu melaksanakan perilaku tersebut selama satu tahun, dia lebih senang duduk di rumahnya dan mengutamakan uzlah.

 

      Saya (Syaikh Abul Qasim Al Qusyairy RA) mendengar Bisyir bin Harits menatakan, “Jika bicaramu membuatmu kagum maka diamlah. Jika diammu membuatmu kagum maka bicaralah. “ Menurut Sahal bin Abdullah, tidak dibenarkan seseorang diam sehingga dia berkhalwat. Dan tidak dibenarkan seseorang bertobat sehingga dia diam. Abu Bakar Al-Farisi berkata, “Barang siapa yang tidak membiasakan diri diam, maka segalaurusannya akan sia-sia meskipun dia adalah orang yang diam. Diam tidak hanya terbatas pada mulut tetapi juga pada hati dan seluruh anggota tubuh. Sebagian ulama berkata, “Barang siapa yang tidak mampu menahan diam maka bicaranya akan sia-sia”.

 

      Saya (Syaikh Abul Qasim Al Qusyairy RA) mendengar Mimsyad Ad-Dinawari berkata, “Ahli hikmah akan mewariskan ilmu hikmahnya dengan diam dan akal pikiran”. Abu Bakar AL-Farisi pernah ditanya tentang diamnya hati, dia menjawab, “Meninggalkan kesibukan masa yang telah lampau dan masa yang akan datang”. Menurutnya, jika seseorang yang pembicaraannya ditentukan dan dia harus berbicara, maka hendaknya dia membatasi diam.

 

      Diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal RA dia berkata, “Berbicaralah denga orang lain seminimal mungkin dan berbicaralah dengan Tuhanmu sebanyak mungkin, agar hatimu dapat melihat Tuhan”.

 

      Dzunun pernah ditanya oleh seseorang, “Siapa orang yang paling mampu menjaga diri ?”

      “Orang yang betul-betul menjaga mulutnya”. Jawabnya

 

      Menurut Ali bin Bakar, Allah SWT  menjadikan segala sesuatu dua pintu dan menjadikan mulut empat pintu. Dua bibir mempunyai dua daun pintu, dan beberapa gigi juga mempunya dua daun pintu

 

      Menurut suatu riwayat, Abu Bakar As-Shiddiq meletakkkan batu kecil di dalam mulut beliau agar bicaranya dapat diminimalkan. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Abu Hamzah Al-Baghdadi adalah orang yang bicaranya baik. Suatu saat hatif berkata kepadanya, “Engkau telah berbicara dengan baik tetapi diam tentu lebih baik”. Setelah itu dia tidak pernah berbicara sampai dia meninggal dunia.

 

      Imam Asy-Syibli apabila menyampaikan materi kajiannya, tak seorangpun yang hadir akan bertanya. Beliau berkata dengan mengutip firman Allah SWT “Wawaqa’al qaulu ‘alaihim bimaa dhalamuu, fahum laa yanthiquun QS. An-Naml 85 yang artinya “Perkataan (janji Allah) kepada mereka telah tiba karena mereka aniaya. Sedangkan mereka tidak dapat bercakap-cakap”.

 

      Diam terkadang juga terjadi bagi orang yang berbicara karena diantara kaum ada orang yang lebih baik bicaranya.

 

      Saya (Syaikh Abul Qasim Al Qusyairy RA) mendengar Ibnu Samak berkata, “Antara Syah AL-Karmani dan Yahya bin Mu’adz terdapat ikatan persahabatan. Syah tiadak pernah menghadiri suatu majlis pengajian. Suatu saat ketika Syah ditanya tentang itu, Syah menjawab, “Yang benar seperti ini”. Mereka kemudian selalu mendeakti Syah hingga suatu saat dia mau menghadiri pengajian dan duduk di sebelah pinggir (tepi) yang tidak diketahui oleh Yahya bin Mu’adz. Ketika Yahya hendak berbicara (menyampaikan materi pengajian), dia diam sejenak, setalah itu Yahya bertanya, “Siapa diantara kamu sekalian yang bicaranya lebih baik dan lebih menggetarkan dari pada aku?”. Syah menjawab, “Saya tegaskan kepada kamu sekalian yang benar adalah ketidak hadiranku di temapt pengajian ini”,

 

      Daim kadang terjadi pada orang yang sedang berpidato karena terkandung suatu pengertian bagi orang-orang yang hadir, yakni orang yang tidak suka mendengarkannya.  Oleh karena itu Allah SWT akan melindungi materi pidatonya sehingga akan memberikan gairah dan kesenangan bagi orang yang tidak menyukai.

 

      Saya (Syaikh Abul Qasim Al Qusyairy RA) telah mendengar Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq berkata, “Suatu saat saya tidak bisa menghadiri pengajian di Murwa karena ada halangan. Untuk pulang ke Nisabur, saya merasa berat karena sudah menempuh separuh perjalanan. Ketika tidur saya bermimpi bertemu dengan seseorang. Dia berkata kepadaku, ‘jangan bersikeras keluar dari kota ini karena sekelompok jin sangat ingin mendengarkan pidatomu dan mereka telah hadir di temapt pengajianmu. Oleh karena itu alangkah baiknya jika engkau menyampaikan  materi pengajian”’.

 

      Sebagian ahli hikmah telah berkata, “Manusia diciptakan Allah SWT dengan mempunyai satu mulut, dau mata dan dua telinga agar dia dapat mendengar dan melihat lebih banyak dari apa yang dia katakana”.

 

      Ibrahim bin Adham pernah diundang. Ketika dia sedang duduk, orang-orang yang hadir mengumpat. Dia berkata dengan bahasa ironi, “Disamping kita terdapat orang yang memakan daging sesudah makan roti. Sedangkan kamu sekalian memulai dengan makan daging”. Dia mengutip firman Allah “Ayuhibbu ahadukum ayya’kula lahma akhiihi maitan fakarihtumuuhu” QS. Al-Hujarat 12 yang artinya, “Apakah diantara kamu sekalian suka makan daging saudaranya yang sudah mati ? maka tentu kamu akan benci memakannya”..

 

      Menurut ahli hikmah, diam adalah mulut orang yang bijaksana. Menurut sebagian yang lain, belajar diam sama halnya dengan belajar bicara. Belajar bicara akan memberikan petunjuk, dan belajar diam akan menjaganya. Menurut suatu pendapat, keselamatan mulut adalah diam. Sebagian lain juga berpendapat, perumpamaan mulut adalah seperti hewan buas, apabila tidak diikat, ia akan menganiaya.

 

      Abu Hafs pernah ditanya, “Bagi seorang wali, keadaan apa yang lebih utama?” Dia menjawab, “Seandainya orang yang berbicara mengetahui resiko pembicaraan, dia pasti akan diam. Dan seandainya dia mengetahui resiko diam, dia pasti akan terus menerus memohon kepada Allah SWT agar dipanjankan umurnya seperti Nabi Nuh AS sehingga dia dapat berkata, “agar dia mendapat petunjuk menuju kebaikan”.

 

      Menurut satu pendapat, puasa orang awam dengan mulut, puasa orang ma’rifat dengan hati. Dan puasa orang yang cinta kepada Allah dengan ketinggian rahasia akal pikiran.

 

      Sebagian ulama berkata, “Saya mengekang mulutku selama 30 tahun  sehingga tak pernah mendengar sesuatu kecuali yang keluar dari hatiku. Setelah itu saya mengekang hatiku selama 30 tahun sehingga aku tidak pernah mendengar sesuatu selain yang keluar dari mulutku”. Menurut ungkapan sebagian ulama yang lain, seandaninya mulutmu tidak dapat berbicara, engkau tak akan lepas dari ucapan hati. Seandainya engkau menjadi orang yang buruk, engkau tidak akan lepas dari ucapan diri sendiri. Dan seandainya engkau berusaha secara optimal, jiwamu (ruh) mu tidak akan berbicara denganmu karena ia menyimpan rahasia yang tersembunyi”.

 

      Menurut suatu pendapat, orang yang bodoh adalah kunci kematian. Menurut yang lain, orang yang cinta kepada Allah SWT, jika tidak berbicara dia akan kuat. Fudhail bin Iyadh berkata, “Barang siapa yang bicaranya lebih banyak dari pada perbuatannya, maka inti bicaranya adalah sedikit kecuali ucapan yang dibutuhkan”.

Mei 19, 2007 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan sebuah Komentar

Zuhud

makkah2.jpg

Zuhud

 

 Nabi Muhammad SAW bersabda, “Idzaa ra-aitumurrajula qad uutiya zuhdan fiddunya wamunthiqan faqtaribuu minhu fa-innahuu yulaqqanul hikmah” ang artinta, “Jikamu kamu sekalian melihat seseorang yang dianugerahi zuhud terhadap dunia, dan berbicara benar, maka dekatilah dia, sesungguhnya dia adalah orang yang mengajarkan  kebijaksanaan”.

 

      Seorang Maha guru berkata, “Ulama berbeda pendapat tentang zuhud, diantara mereka ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud zuhud adalah meninggalkan (hal, perbuatan, barang) yang haram karena yang halal diperbolehkan Allah SWT . apabila Allah Ta’ala memberikan suatu kenikatan kepada seorang hamba lantas ia bersyukur kepadaNya maka Allah akan membalasnya dengan setimpal.

 

      Diantara mereka ada juga yang berpendapat, “meninggalkan yang haram adalah wajib dan meninggalkann yang halal adalah keutamaan. Orang yang meminimalkan harta dan selalu beribadah disebut orang yang sabar terhadap dirinya sendiri., rela terhadapn apa yang ditetapkan Allah SWT, menerima apa yang diberikan Allah, dan lapang dada terhadap apa yang telah ditentukan Allah SWT”. Allah telah memberikan gambaran tentang zuhud kepada manusia dengan firmanNya ,”Qul mataa’uddunya qaliil wal aakhiratu limanittaqaa” yang artinya, “Katakan sesungguhnya kenikmatan dunia adalah sebentar, dan akhirat lebih baik bagi orang ang bertaqwa.

 

      Selain itu terdapat beberapa ayat lain yang mencela kehidupan dunia dan menganjurkan hidup zuhud.

 

      Sebaggian yang lain berpendapat, “Apabila seseorang menafkahkan hartanya, selaliu sabar danmeninggalkan apaa yang dilarang oleh syarak, alangkah lebih sempurnanya jika ia zuhud terhadap hal yang halal”.

 

      Menurut ulama yang lain, selayaknya bagi hamba jangan memilih meninggalkan hal yang halal karena terpaksa, jangan mencari hal yang tidak ada faedahnya dari sesuatu yang tidak dibutuhkan, dan hendaklah menerima pembagian rizki yang telah ada. Apabila Allah SWT memberikan rizki yang halal maka hendaklah bersyukur. apabila Allah memberi harta yang hanya sekedar cukup, maka hendaknya janygan memaksa diri mencari harta yang tidak berfaedah. Oleh karena itu sabar lebih baik bagi orang yang fakir, sedangkan syukur lebig tepat bagi orang yang memiliki harta yang halal.

 

      Menurut Sufyan Ats-Tsauri, yang dimaksud zuhud adalah memperkecil cita-cita bukan memakan sesuatu yang keras dan bukan pula memakai pakaian mantel yang kusut. Menurut As-Sirri, Allah Ta’ala menghilangkan kenikmatan dunia, melarangnya dan mengeluarkannya dari para kekasihnya. Allah Ta’ala tidak rela jika mereka menikmati dunia.

 

      Menurut yang lain, kata-kata zuhud dikutip adri firman Allah Ta’ala yang berbunya, “liakilaa ta-suu ‘alaa maa faataakum walaa tafrachuu bimaa aataakum” yang artinya, “(kami jelaskann yang demikian itu agar mereka tidak berdukaa terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak terlalu gembira terhadap apa yang diberikanNya kepadamu”.

 

      Orang yang zuhud tidak akan bangga dengan kenikmatan dunia, dan tidak akan mengeluh dengan kehilangan dunia. Sedangkan menurut pendapat Abu Utsman, yang dimaksud zuhud adalah meninggalkan kenikmatan dunia dan tidak mempedulikan orang yang dapat menikmatinya.

 

      Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq berkata, “Zuhud merupakan sikap anti kemewahan dunia, tidak berkeinginan membangun pondok / ribath, dan masjid”. Menurut Yahya bin Muazd, zuhud membawa implikasi mendermakan harta benda, sedangkan cinta membawa implikasi mendermakan diri sendiri. Menurut Ibnu Jala’, yang dimaksud zuhud adalah memandang dunia hanya pergeseran bentuk yang tidak mempunyai arti dalam pandangan. Oleh karenanya ia akan mudah sirna. Ibnu Khafif berpendapat, tanda-tanda zuhud adalah merasa senang meninggalkan harta benda, sedangkan yang dimaksud zuhud adalah hati merasa terhibur meninggalkan berbagai bentuk kehidupan dan menghindarkan diri dari harta benda. Sedangkan menurut pendapat yang lain yang dimaksud zuhud adalah jiwa merasa tenang meninggalkan kehidupan dunia tanpa keterpaksaan.

 

      Nashr Abadzi berkata, “Yang dimaksudn orang zuhud adalah orang yang terisolir  dalam kehidupan dunia. Sedangkan yang dimaksud orang ma’rifat adalah orang yang terisolir dalam kehidupan akhirat. “ Menurut satu pendapat barang siapa yang zuhudnya benar, maka dia akan menjadi orang yang rendah hati di dunia ini. Oleh karean itu dapat dikatakan, seandainya songkok yang jatuh dari langit, maka ia tidak akan jatuh kecuali di atas orang yang menginginkannya. Menurut Al-Junaid, zuhud adalah hati yang terhindar dari hal-hal yang negative.

 

      Ulama salaf berbeda pendapat tentang arti zuhud. Menurut Sufyan Ats-Tsauri, Ahmad bin Hambal, Isa bin Yunus, dan ulama yang lain, arti zuhud adalah memperkecil cita-cita. Dalam pengertian ini terkandung beberpa indikasi zuhud, beberapa sebab yang muncul , dan beberapaarti yang telah ditetapkan.menurut Abdullah ibn Mubarak, zuhud adalah percaya kepada Allah SWT disertai sikap cinta terehadap kefakiran. Syaqiq Al-Balkhi dan Yusuf bin Asbath sependapat dengan pandangan tersebut yang juga mengandung beberapa indikasi zuhud.  Oleh karena itu seorang hamba tidak mampu mengerjakan zuhud kecuali ia percaya kepada Allah SWT.

 

      Menurut Abdul Wahid bin Zaid arti zuhud adalah meninggalkan dinar dan dirham.  Sedangkan menurut Abu Sulaiman Ad-Darani, arti zuhud adalah meninggalkan aktifitas yang mengakibatkan jauh dari Allah SWT.

 

      Al-Junaid ditanya tentang zuhud oleh Riwaim, beliau menjawab, “Memperkecil kehidupan dunia dan menghilangkan berbagai pengaruh yang ada di dalam hati “. Menurut as-Sary, kehidupan yang zuhud tidak akan menjadi baik jika yang bersangkutan masih menyibukkan diri. Demikian juga orang yang ma’rifat. Al-Junaid juga pernah ditanya tentang zuhud maka beliau menjawab, “Melepaskan tangan dari harta benda dan melepaskan hati dari kesenangan hawa nafsu”. Asy-Syibli pernah ditanya tentang zuhud, beliau menjawab, “Meninggalkan segala bentuk kehidupan dunia untuk beribadah kepada Allah”.

 

      Menurut Yahya bin Mu’adz, orang tidak akan sampai kepada hakikat auhud kecuali dengan tiga hal. Pertama, perbuatan tanpa ketergantungan. Kedua ucapan tanpa keinginan hawa nafsu. Ketiga, kemuliaan tanpa kekuasaan. Menurut Abu Hafs, zuhud tidak akan terealisir kecuali dalam hal yang halal. Demikian juga haln yang halal tidak akan terealisir kecuali dengan zuhud.

 

      Abu Utsman berpendapat, Allah SWT akan memeberikan sesuatu kepada orang zuhud melebihi apa yang dikehendaki, memberikan kepada orang yang cinta Allah SWT selain apa yang ia kehendaki, dan memberikan kepada orang yang konsisten beribadah sesuai dengan apa yang ia kehendaki.

 

      Menurut Yayha bin Mu’adz, oranag yang zuhud akanmembuat cuka dan biji saei sebagai obat, sedangkan orang yang ma’rifat akan membuat minyak misik dan ambar sebagai parfum. Sedangkan menurut Hasan AL-Bashri, arti zuhud adalah benci terhadap orang yangmenyukai harta kekayaan dan apa-apa yang dimilikinya.

      Sebagian ulama ditanya, “apakah zuhud itu?’.

      “Meninggalkan sesuatu yang dimiliki orang lain.”

      Seorang lai=ki-laki pernah bertanya kepada Dszunun Al-Mishri “kapan saya harus Zuhud ?”

      “Ketika engkau sudah mampu mengasingkan dirimu.”

     

      Muhammad bin Fadhal berkata, “Mengutamakan zuhud ketika dalam keadaan kaya dan mengutamakan fitnah / cobaan ketika dalam keadaan fakir. “

 

      Allah SWT berfirman.”Wayu’tsiruuna ‘alaa anfusihim walau kaana bihim khashaashah” yang artinya, “Mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka, meskipun mereka sangat butuh (apa yang mereka berikan).

 

      Al-kattani berkata, “Berbagai persoalan yang tidak pernah diperselisihkan oleh ulama kufah, Madinah, Irak, dan Syam adalah zuhud, kemurahan jiwa / hati, dan memberikan ansihat kepada orang lain, yakni tidak satupun dari ulama yang berpendapat bahwa berbagai persoalan tersebut merupakan perilaku yang tidak terpuji”.

 

      Yahay bin Muadz ditanya oleh seseorang, “Kapan saya dapat memasuki pesanggrahan tawakal, memakai selendang zuhud, dan duduk bersama-sama orang yang zuhud ?”. Beliau enjawab, “Apabila engkau telah mampu melatih jiwamu, secara samara-samar dalam batas-batas yang seandainya Allah SWT tidak memberikan rizki kepadamu selama tiga hari  jiwamu tidak akanmenjadi lemah. Apabila engkau tidak sampai pada kedudukan ini, maka dudukmu di permadani orang-orang yang zuhud adalah sia-sia, sehingga engkau mengalami kecacatan”.

 

      Bisyr Al-Hafi berpendapat, zuhud ibarat benda milik yang tidak memperoleh tempat kecuali di hati yang suuci. Muhammad bin Asy’ats Al-Bikindi berkata, Barang siapa yang membahas zuhud dan memberikan peringatan tetapi dia mencintai harta mereka, maka cintanya terhadap akhirat akan dihilangkan oleh Allah SWT dari hatinya”.

 

      Menurut suatu pendapat, apabila seorang hamba Allah SWT meninggalkan kehidupan duniawi, maka Allah SWT mengutus malaikat agar dia diberi hikmah di dalam hatinya. Sebagian ulama pernah ditanya, “untuk apa zuhud ?”. Beliau emnjawab, “untuk kepentingan diriku”.

 

      Menurut Ahmad bin Hanbal, zuhud terbagi menjadi tiga, pertama meninggalkan hal yang haram, ini zuhud orang yang awam. Kedua, meninggalkan hal yang halal, ini zuhud orang yang istimewa. Ketiga, meninggalkan segala hal yang menyibukkan sehingga jauh dari Allah SWT. Ini zuhud orang yang ma’rifat”.

 

      Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq berkata, “sebagaimana ulama pernah ditanya, kenapa engkau zuhud ? “ Dia menjawab, “kkarena apabila saya meninggalkan hal-hal yang banyak , maka kecintaanku akan hal-hal yang sedikit akan menjadi hilang.”

Yahya bin Mu’adz berkata, “Dunia bagaikan pengantin perempuan. Barang siapa yang menginginkannya, bersikap lemah lembutlah kepada tukang sisir rambutnya. Orang yang zuhud akan menghitamkan muka pengantin, mencukur rambutnya, dan membakar pakaiannya. Sedangkan orang yang ma’rifat akan selalu sibuk mengingat Allah SWT tanpa menoleh kepadanya”.

 

      As-Sariy berkata, “Saya telah membiasakan diri terhadap-hal-hal yang berkaitan dengan zuhud. Segala sesuatu yang kuinginkan telah ku peroleh kecuali emninggalkan orang banyak. Oleh karena itu saya belum sampai  dan belum memperolehnya”.

 

      Menurut satu pendapat, orang yang zuhud tidak akan keluar kecuali pada dirinya sendiri, karena mereka tidak menginginkan kenikmatan yang fana, tetapi menginginkann kenikmatan yang abadi / akhirat. Menurut Nashr Abadzi, yang dimaksud zuhud adalah mempertahankan darah orang-orang yang zuhud dan menumpahkan darah 0rang-0rang yang ma’rifat”.

 

      sedAngkan menurut Hatim Al-Asham ayng dimaksud orang yang hendak zuhud adalah orang yang mampu menyerbu  / menyerang hawa nafsunya  sendiri sebelum kecerdikan / akal pikirannya timbul.

 

      Fudhail bin Iyadh berkata, Allah SWT menjadikan segala kejelekan di dalam satu rumah dan menjadikan cinta kepada kehidupan dunia sebagai kuncinya. Allah SWT menjadikan segala kebaikan dalam satu rumah dan menjadikan zuhud sebagai kuncinya”.

 

………………………………

 

Mei 14, 2007 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan sebuah Komentar

Wara’

makkah3.jpg

Wara’

 

Abu Dzar Al-ghifari berkata,” RasuluLlah SAW bersabda, “Min husnil islaamil mar’i tarkuhu maa laa ya’niih” yang artinya, “Sebagian dari kesempurnaan iman seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak berarti“.

 

Yang dimaksud wara’ adalah meninggalkan hal-hal yang subhat. menurut komentar Ibrahim bin Adham yang dimaksud wara’ adalah meniggalkan hal-hal yang subhat dan yang tidak pasti (tidak dikehendaki) yakni meniggalkan hal-hal yang tidak berfaedah.

 

Abu Bakar Ash-Shidiq RA. berkata, “Kita telah meninggalkan 70 persoalan yang berkaitan dengan hal yang halal karena takut terkait dengan persoalan yang haram. Nabi SAW pernah menasehati ABu Hurairah RA. Kun Wara’am takun a’badanNaas yang artinya jadilah kamu orang yang waling wara’ niscaya kamu menjadi orang yang paling ahli beribadah diantara manusia.

 

As-Sary berkata, “ada empat ahli wara’ di masa mereka, yaitu Hudzaifah Al-Mashri, Yusuf bin Asbath, Ibrahim bin Adham, dan Sulaiman Al-Khawwas. Mereka mempunyai pandangan yang sama tentang wara’ . Ketika mereka mendapatkan persoalan yang sulit, mereka mampu meminimalkan”. Asy-Syibli berkata, “wara merupakan upaya untuk menghindarkan diri dari berbagai hal yang tidak berkaitan dengan Allah SWT”.

 

Diceritakan oleh Ishaq bin Khalaf, “Perak dalam ilmu logika lebih hebat dari pada emas dan perak, sedang zuhud dalam ilmu kepemimpinan lebih hebat daripada keduanya. oleh karena itu en gkau dapat menhgalahkan keduanya dalam mencari kepemimpinan.

Menurut Abu Sulaiman AD-Daarani, wara’ adalah permulaan dari zuhud, sedangkan qana’ah adalah akhir dari keridhaan. Sedangkan menurut Abu Utsman, pahala wara’ adalah takut terhadap hisab. Menurut Yahya bin Muadz, wara’ akan terhenti di atas ilmu tanpa ada perubahan.

 

Diriwayatkan pada suatu hari AbduLlah bin Marwa mengalami kebangkrutan. Dia berada di dalam sumur yang sangat kotor. Setelah itu dia menyewanya sehingga dia dapat keluar . AbduLlah bin Marwan ditanya tentang hal ini , maka dia menjawab, “Di atas sumur terdapat asma Allah Ta’ala.

 

Yahya bin Muadz berkata, “wara’ terbagi menjadi dua, pertama wara’ lahir. yaitu semua gerak aktivitas yang hanya tertuju kepada Allah SWT. Kedua, wara’bathin, yaitu hati yang tidak dimasuki sesuatu kecuali hanya mengingat Allah Ta’ala.

 

Yahya bin Muadz berkata, “barang siapa yang belum menikmati lezatnya wara’ , maka dia belum pernah menikmati pemberian Allah Ta’ala. Ada suatu ungkapan, Barang siapa yang pandangan keagamaannya baik dan bagus, maka derajadnya akan ditinggikan oleh Allah Ta’ala di ahri kiyamat. Yunus bin Ubaid berpendapat, yang di maksud wara’ adalah menghindarkan diri dari segala bentuk syubhat dan memelihara diri dari segala bentuk arah pandangan. Sufyan Ats-Tsauri berkata, “Saya tidak pernah melihat sesuatu yang lebih mudah daripada wara’, kecuali meninggalkan hal yang keruh di dalam hati. Syaikh Ma[ruf Al-Kharqi juga berkomentar, “jagalah mulutmu dari pujian sebagai mana engkau menjaga mulutmu dari perilaku tercela”. Bisyir bin Harits berkata, “Perbuatan yang paling utama ada tiga, Pertama dermawan dalam keadaan tidak mempunyai sesuatu kecuali hanya sedikit. Kedua wara’ dalam keadaan khalwah, ke tiga berkata benar di hadapan orang yang takut kepada Allah Ta’ala dan meninggalkan harap kerelaannya”.

 

Dalam suatu cerita, saudara perempuan Bisyir Al Hafi datang kepada Ahmad bin Hambal seraya bertanya, “Suatu saat kami menarik tempat kami yang tinggi dan datar, kemudian ada cahaya obor yang mengikuti kami dan cahaya itu jatuh di hadapan kami, apakah boleh kami menarik cahaya obor itu ?.

“Siapa engkau ?”tanya Ahmad balik bertanya.

“Saudara perempuan Bisyir Al-Hafi”

Setelah itu ahmad bin Hambal menangis dan berkata “barang siapa yang memberikan perlindungan ( penginapan di waktu malam ) maka dia adalah orang yang wara’. Oleh karenanya, sinar obor itu jangan kau tarik”.

 

Ali Al-Aththar menceritakan, “Suatu hari saya melewati jalan kota bashrah. Tiba-tiba di sana ada beberapa orang tua yang sedang duduk dan beberapa orang anak yang sedang bermain. Saya bertanya, “Apakah kamu semua tidak malu terhadap beberapa orang tua itu ?” Salah seorang dari mereka menjawab, “Beberapa orang tua itu tidak memiliki sifat wara’ . Setelah itu saya menceritakan kepada mereka, tentang kehebatan anak-anak itu”.

 

Ada satu ungkapan, Malik bin Dinar tinggal di Bashrah selama empat puluh tahun, dia tidak pernah makan kurma, baik yang kering maupun yang basah sampai dia wafat. Ketika musim panen telah selesai, dia berkata, “Wahai penduduk Bashrah, inilah perutku yang belum pernah merasakan kekurangan dan kelebihan”.

 

Ibrahim bin Adham pernah ditanya, “apakah engkau tidak pernah minum air zam-zam ? Dia menjawab, “Seandainya ada timba pastilah saya minum”. Harits al-Muhasibi pernah mengulurkan tangannya untuk mengambil sesuatu makanan yang subat, tiba-tiba ujung jarinya berkeringat sehingga dia tahu bahwa makanan tersebut tidak halal. Diceritakan bahwa Bisyir Al-Hafi pernah diundang dalam suatu acara. Makanan telah diletakkan di hadapannya. Ketika dia mengulurkan tangannya, ternyata tangan tersebut tidak mengulur. Sampai dia kerjakan tiga kali. Peristiwa itu diketahui oleh seorang laki-laki . “Sesungguhnya tangan Bisyir tidak dapat diulurkan pada makanan yang syubhat. Oleh karenanya pengundang tersebut tidak layak mengundang Syaikh ini, “kata lelaki itu.

 

Sahal bin AbdulLah pernah ditanya tentang hal yang halal dan murni, beliau menjawab, “Barang yang dipergunakan bukan untuk bermaksiyat kepada Allah”. Beliau juga mengatakan, “Yang dimaksud hal yang murni halal adalah barang yang dipergunakan bukan untuk melupakan Allah Ta’ala”.

 

Hasan Al Bashri mengunjungi kota makkah beliau melihat salah seorang putera Ali bin Abi Thalib RA menyandarkan punggungnya ke ka’bah sambil menganjurkan kebaikan kepada orang banyak. Hasan Al Bashri berhenti dan bertanya, “Kebesaran agama itu apa ?”.

wara’”.

“Penyakit agfama itu apa?”

“Tamak”.

Hasan Al Bashri kagum kepadanya sampai dia berkata, “Berat timbangan satu biji wara’ yang murni lebih baik dari pada timbangan puasa seribu puasa dan shalat”.

 

Abu Hurairah berkata, “Orang-orang yang selalu beribadah kepadan Allah Ta’ala akan dikumpulkan dengan orang-orang yang wara’ dan zuhud kelak di hari kiyamat.” Sahal bin AbduLlah berkata, “Orang yang tidak pernah bergaul dengan orang yang wara’ ibarat orang yang makan kepala gajah, tetapi ia tidak pernah kenyang”.

 

Dalam suatu cerita, Umar bin Abdul Aziz menerima minyak misik dari rampasdan perang, sementara beliau sedang memegang racun yang terkandung di dalamnya. Setelah mengamati sejenak, beliau berujar, “Dari minyak misik ini harumnya dapat diambil manfaat. Tetapi saya tidak menyukai harumnya itu kecuali terhadap orang islam”.

 

Abu Utsman Al-Mariri pernah ditanya tentang wara’, beliau bercerita, Abu Shahih Hamdun, seorang penatu, berada di samping temannya yang sedang sekarat dan akhirnya meninggal dunia. setelah itu Abu Shahih meniup lampu (mematikannya) dan kemudian beliau ditanya tentang hal tersebut, maka beliau menjawab, “Sampai sekarang minyak yang dipergunakan untuk menyalakan lampu masih ada, dan mulai sekarang minyak tersebut adalah milik ahli warisnya. Oleh karena itu carilah minyak yang lain”.

 

Seseorang berkata berkata dengan suara halus sambil menangis. “Saya telah berbuat dosa selama empat puluh tahun. Suatu hari saudaraku berkunjung kepadaku, setelah itu aku membeli ikan panggang untuknya. Ketika dia selesai makan, saya mengambilkan sedikit tanah liat dari dinding tetangga sehingga dia dapat membersihkan tangannya, namun sdmpai saat ini saya belum meminta maaf kapadanya”.

 

Seorang laki-laki pernah menulis di papan rumah sewaan. Diah hendak menghapus tulisan itu dengan debu dinding rumah. Di dalam hatinya terlintas bahwa rumah itu adalah rumah sewaan yang sebelumnya tidak pernah terlintas (terbayangkan untuk hal ini), sehingga pada akhirnya tulisan itu dihapusnya. Setelah itu ia mendengar suara hati “Orang yang menganggap remem apa yang menimpanya sehingga ia menghapus tulisan itu. Dia akan di hisab lama kelak di hari kiyamat”.

 

Ahmad bin Hambal mengadaikan bejana terbuat dari tembaga kepada tukang sayur di mekkah. ketika hendak menebusnya, penjual sayur itu mengeluarkan dua buah bejana seraya berkata, “Salah satunya dapat kau ambil”.

“Saya merasa sulit untuk memilih bejanaku, oleh karena itu bejana dan dirham sekarang menjadi milikmu”. Kata Imam Ahmad bin Hambal.

 

“Ini adalah bejanamu, saya ingin memberikan upah / imbalan kepadamu”. kata penjual sayur.

“Saya tidak mau mengambilnya”Jawab beliau seraya meninggalkan bejana itu karena takut dosa.

 

diriwayatkan bahwa Ibnu Mubarak meninggalkan hewan tunggangannya yang haganya mahal dan mengerjakan shalat dhuhur. hewan tunggangan itu kemudian berkeliaran di daerah pertanian kerajaan, setelah itu beliau meninggalkan hewan tunggangan tersebut dan dibiarkan begitu saja. Ada yang berpendapat, Ibnu Mubarak pulang dari marwa, menuju syam untuk mengembalikan pena yang dipinjam, tetapi ia tidak mengembalikan kepada pemiliknya.

 

Nakha’i pernah menyewa hewan tunggangan kemudian cambuknya terjatuh dari aaapegangan tangan. Setelah itu ia turun untuk mengambil cambuk tersebut. Seseorang berkata kepadanya Seandainya hewan tunggangan itu kembali ke tempat terjatuhnya cambuk , pati akan saya ambil”. Nakha’i menjawab, “hewan yang saya sewa memang harus saya perlakukan seperti ini, bukan seperti itu “.

 

Abu Bakar AD-Daqaq berkatas, “Saya telah mengunjungi daerah padang pasir bani Israel selama 15 hari. Ketika melawati sebuah jalan, saya dihadang oleh tentara untuk diberi minum sehingga hatiku kuat kembali selama tiga puluh tahun”. Dalam cerita lain Rabi’aah Adawiyah menjahit pakaiannya yang telah robrk di bawah pantulan lampu milik raja. hatinya sesaat terperangkap sehingga teringat sesuatu. Secara reflek beliau merobek bajunya sehingga dia mampu menemukan jati dirinya.

 

Sufyan Ats-Tsauri pernah bermimpi terbang bersama malaikat di surga. Dia ditanya oleh malaikat, dengan apa akmu memperoleh ini ?”.

“Dengan sifat wara’”

 

Hasan bin Sinan berhenti di depan teman-temannya seraya bertanya, “Apa yang paling hebat menurut kamu sekalian ?”.

“Wara”.

“Tidak satupun yang lebih ringan daripada wara’”

“Bagaimana mungkin ?” Mereka malah balik bertanya.

“Saya belum pernah minum air sungai kamu seklian dengan puas selama 40 tahun “.

 

Hasan bin Abi Sinan memang belum pernah tidur terlentang, bwlum pernah makan samin, dan belum pernah minum air dingin. SZuatu saat dia bermimpi meninggal dunia. Dalam kondisi demikian dia ditanya oleh seseorang “Apa yang telah Allah berikan kepadamu ?” Beliau menjawab, “Kebaikan “. Hanya saja saya terhalang masuk surga karena sebatang jarum yang pernah saya pinjam tetapi belum saya kembalikan”.

 

Abdul Wahid bin Zaid mempunyai seorang pelayan yang melayani selama dua tahun dan mengabdi (beribadah)selama 40 tahun . Pada awalnya ia diperintah mengabdi sebagai tukang takar, ketika ia meninggal dunia ABdul Wahid bermimpi bertemu dengannya.

“Apa yang telah Allah berkkan kepadamu ?” Tanya Abdul Wahid

Kebaikan. Hanya saja saya terhalang masuk surga dan saya telah dikeluarkan dari perangkap 40 karung debu”.

 

Nabi Isa pernah melewati kuburan. Salah satu dari orang yang telah meninggal memanggilnya. Setelah itu Allah menghidupkan orang itu , Nabi Isa bertanya, “Siapa engkau ?”.

“Saya adalah tukang pikul kayu yang selalu memberikan kemudahan untuk kepentingan orang lain . Suatu hari saya memindahkan kayu milik orang dan yang rusak saya pecahkan.. Setelah saya meninggal dunia saya dituntut untuk mengembalikan”. Kata si mayat dengan nada sedih.

 

Abu Said Al-Kharras membahas tentang wara’ Suatu saat dia bertemu dengan Abbas Al-Muhtadi dan bertanya, “Apakah engnkau tidak merasa malu duduk di bawah atap Abu Dawaniq, minum dari kolam anggur, dan berdagang dengan uang palsu, sedangkan engkau membahas tentang wara’”.

Mei 5, 2007 Posted by | Uncategorized | 2 Komentar

   

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.